Sabtu, 19 Mei 2012

Warga Kedopokan yang Rawan longsor "Bedol Rumah"

Gb. Rumah warga yg sudah mulai di bungkar dan di turunkan Gentengnya
Tlogopucang - Tumpukan genteng yang telah menghitam dan sejumlah kayu bangunan bekas yang sebagian tidak utuh lagi terlihat di pinggir jalan saat memasuki Dusun Kedopokan, Desa Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Sejumlah anak sekolah dan warga terlihat bergotong royong membongkar sebuah bangunan rumah. Mereka menurunkan genteng kemudian dibawa ke pinggir jalan secara estafet.
Sekelompok pemuda mengusung bagian atap rumah berupa kuda-kuda kayu ke atas mobil "pick up" yang kemudian dibawa ke tempat lain untuk dirangkai kembali menjadi bangunan rumah.

Begitulah kegiatan masyarakat Dusun Kedopokan dalam beberapa waktu terakhir. Mereka terpaksa "bedol rumah" atau membongkar bangunan rumah mereka untuk dibangun kembali di daerah lain yang lebih aman dari ancaman bahaya tanah longsor.


Masyarakat Dusun Kedopokan yang tinggal di lembah berundak di antara dua bukit tersebut selama ini hidup tenteram dan sebelumnya belum pernah terjadi longsor.

Namun, sejumlah rumah yang rata-rata berada di bibir dan kaki tebing itu sebenarnya rawan terjadi tanah longsor.

Kekhawatiran warga mulai timbul setelah di dusun tersebut terjadi tanah bergerak pada Rabu (9/5) pagi. Sebanyak 70 keluarga warga Kedopokan terpaksa harus mengungsi ke daerah yang lebih aman karena mereka khawatir terjadi longsor.

Mereka yang mengungsi adalah warga RT 04, sebagian warga RT 03, RT 06, dan RT 07 Dusun Kedopokan. Warga mengungsi ke gedung Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dan sejumlah rumah warga di RT 05, RT 08, RT 09, dan RT 10.

Sebelum kejadian tersebut, di kawasan perbukitan itu telah terjadi tanah longsor di beberapa titik pada Senin (7/5) dan muncul retakan selebar 10 hingga 30 centimeter sepanjang 200 meter.

Kondisi tersebut membuat Pemkab Temanggung menerapkan tanggap darurat di kawasan tersebut dengan menyalurkan logistik, mendirikan dapur umum dan posko kesehatan.

Pada 10 Mei 2012 jumlah pengungsi meningkat tajam menjadi 207 keluarga menyusul terjadi gempa susulan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai tanah bergerak pada Kamis dini hari.

Namun, dalam perkembangannya jumlah pengungsi berangsur berkurang, mereka kembali ke rumah masing-masing karena tidak lagi terjadi gempa susulan.

Hingga Pemkab Temanggung menghentikan masa tanggap darurat pada Rabu (16/5), jumlah pengungsi yang masih bertahan sebanyak 52 keluarga.

Pemkab Temanggung menghentikan masa tanggap darurat karena daerah tersebut dianggap telah aman.

"Meskipun masa tanggap darurat telah berakhir, Pemkab Temanggung tetap akan membantu ketersediaan logistik para pengungsi hingga tujuh hari ke depan," kata Kepala Pelaksanan Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Agus Widodo.

Menurut dia, dihentikannya masa tanggap darurat tersebut berdasarkan kajian beberapa pihak termasuk Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng yang telah melakukan penelitian di Dusun Kedopokan.

Ia mengimbau, warga yang masih tinggal di pengungsian, terutama yang tempat tinggalnya jauh dari tebing untuk kembali ke rumah masing-masing.

"Warga yang saat ini mengungsi dianjurkan untuk kembali ke rumah, terutama yang rumahnya jauh dari lokasi tebing yang mengalami keretakan," katanya.

Ia mengatakan, Pemkab Temanggung menjamin keamanan warga Dusun Kedopokan, namun warga tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang rumahnya persis berada di atas maupun di bawah tebing.

Berakhirnya masa tanggap darurat tersebut, seluruh kegiatan bantuan di pengungsian ditarik, antara lain dapur umum, posko kesehatan, dan bantuan air bersih.

"Namun, kondisi Dusun Kedopokan tetap dipantau oleh BPBD Kabupaten Temanggung," katanya.

Kekhawatiran warga akan terjadi bencana tanah longsor membuat sebanyak 25 keluarga warga Dusun Kedopokan memilih membongkar rumah mereka dan dipindah ke tempat lain, karena rumah mereka berada di bawah maupun bibir tebing.

Kepala Dusun Kedopokan, Imbuh Alwani, mengatakan, untuk sementara warga yang pindah rumah sebanyak 25 keluarga. Mereka pindah rumah ke lahan milik sendiri atau milik saudara yang lokasinya lebih aman dari ancaman tanah longsor.

Ia menyebutkan, sejumlah keluarga yang memastikan pindah dan telah membangun rumah di tempat lain, antara lain keluarga Muhtamad, Samsuri, Sakroni, Yahroni, Kumpul, dan Rusdi.

"Mereka pindah rumah atas inisiatif dan biaya sendiri. Jumlah warga yang pindah diperkirakan bisa bertambah," katanya.

Seorang warga, Samsuri mengatakan terpaksa pindah rumah karena takut terkena longsor, karena tempat tinggalnya dekat tebing.

"Saya pindah rumah karena inisiatif sendiri. Kami pindah dari RT 2 ke RT 10 menempati tanah kakak, dengan cara tukar guling lahan," katanya.

Seorang warga pengungsi, Ujianti mengatakan masih bertahan di pengungsian karena di sekitar rumahnya rawan terjadi tanah longsor.

"Kami beryakinan bahaya masih mengancam bila tinggal di rumah dan kami bertahan di pengungsian hingga ada relokasi atau pulang ke rumah jika benar-benar kondisinya telah aman," katanya.

Tim UGM
BPBD Kabupaten Temanggung mengundang pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk melakukan observasi lapangan dan kajian teknis guna mengetahui kondisi tanah di Dusun Kedopokan yang hasilnya akan digunakan sebagai dasar Pemkab Temanggung mengambil kebijakan.

Tim yang terdiri para pakar longsor itu dipimpin Ketua Program Magister Pengelolaan Bencana Alam UGM, Rachmad Jayadi dan beranggotakan Dwikorita Karnawati, Teuku Faisal Fathani, dan Haryo.

Penelitian yang dilakukan, antara lain dengan pemetaan tanah, mengukur derajat kemiringan, mengambil sampel tanah dan batuan.

Rachmad Jayadi mengatakan kajian di lapangan untuk mengetahui fenomena terjadinya longsor.

Dwikorita mengatakan Dusun Kedopokan berada pada bentang lembah atau ceruk berundak-undak, dengan rumah-rumah berada di tebing dan dasar ceruk. Pengamatan juga pada potensi bahaya dari sisi morfologi, tanah dan batu.

Ia mengatakan, longsor yang terjadi karena kemiringan lereng dikombinasi dengan tekstur tanah, hujan, dan pemotongan lereng untuk jalan dan bangunan.

Faisal mengimbau bila ada rekahan, warga harus segera menutupnya agar air tidak masuk bidang gelincir. Masuknya air ke bidang luncur lebih dalam akan berbahaya. Dia menyarankan tebing yang ada dibuat terasiring.

"Apa yang kami lakukan ini merupakan investigasi awal sehingga belum bisa memberikan kesimpulan," katanya.

Menurut dia, yang terjadi di Dusun Kedopokan bukanlah tanah bergerak, tetapi lebih pada longsoran tebing dan tanah longsor, sedangkan pemicu dari kedua kejadin ini adalah geometri atau tingkat kemiringan tanah, struktur tanah yang labil, dan curah hujan tinggi.

"Jika tidak terjadi hujan yang sangat ekstrem mungkin tidak akan terjadi tanah longsor," katanya.

Ia berharap warga tetap tenang dan tidak panik, namun selalu waspada menghadapi ancaman tanah longsor.

"Sebaikknya warga yang berada di bawah tebing selalu waspada, terutama saat terjadi hujan agar warga mengosongkan rumahnya," katanya.( ANTARA Jateng)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar